Kapan Kehidupan Manusia Dimulai? Oleh dr. Jerome Lejeune

Rabu, 16 November 2011


          Almarhum dr. Jerome Lejeune adalah ahli genetik yang dikenal masyarakat internasional.  Dr. Lejeune adalah seorang profesor genetik di Universitas Rene Descartes di Paris.  Menerima Penghargaan Kennedy dari Almarhum Presiden Kennedy karena berhasil menemukan kelainan genetik Sindroma Down (Down’s Syndrome) yang disebabkan oleh kromosom ekstra (Trisomy 21).  Dr. Lejeune telah menyumbangkan banyak penelitian genetik untuk mencegah dan mengobati Trisomy 21.  Berikut ini adalah pendapat yang diberikannya di depan sub-komite Hukum Senat Amerika.
Kapan persisnya kehidupan seseorang dimulai?  Saya akan mencoba memberikan jawaban yang paling mengena untuk pertanyaan ini berdasarkan ilmu pengetahuan.  Ilmu biologi modern mengajarkan pada kita bahwa persatuan antara para leluhur dengan keturunannya terjadi karena adanya mata rantai yang berkesinambungan dari pembuahan sel wanita (indung telur) oleh sel pria (sperma) yang membuat anggota baru dari sebuah keluarga hadir di dunia.  Kehidupan mempunyai sejarah yang amat sangat panjang, tetapi setiap individu memiliki permulaan yang rapih, yaitu saat terjadinya pembuahan.
Mata rantai yang dimaksud di atas adalah DNA.  Dalam setiap sel reproduksi yang bentuknya seperti pita sepanjang kira-kira satu meter, terdapat bagian-bagian (23 bagian pada manusia).  Setiap bagian digulung dan dibungkus dengan hati-hati (seperti pita magnetik dalam sebuah kaset mini).  Jika kita melihatnya dibawah sebuah mikroskop, bentuknya mirip sebuah batang, itulah yang dinamakan kromosom.
Tak lama setelah 23 kromosom seorang pria bertemu dengan 23 kromosom seorang wanita dalam sebuah pembuahan, semua informasi genetik dari seseorang yang belum dilahirkan telah diperoleh.  Seperti sebuah pita magnetik tadi, yang jika kita putar dalam tape recorder akan mengeluarkan bunyi simfoni yang indah, kehidupan baru mulai menyatakan siapa dirinya tak lama setelah pembuahan terjadi.
Ilmu pengetahuan dan ilmu hukum berkata dalam bahasa yang sama.  Jika seseorang ingin menikmati kesehatan yang sempurna – maka seorang pakar biologi akan mengatakan bahwa ia perlu keadaan jasmani yang sehat, hidup dengan memperhatikan kesehatan seluruh anggota tubuhnya – sedang seorang pakar hukum mengatakan bahwa ia memerlukan kepatuhan akan hukum-hukum yang berlaku, sehingga ia tidak terseret dalam perkara-perkara yang menyulitkan hidupnya.
Alam bekerja seperti itu.  Kromosom-kromosom adalah tabulasi hukum kehidupan, saat mereka bersatu membentuk mahluk baru (maksudnya pembuahan), kromosom-kromosom itu telah menoktahkan keadaan seseorang.
Yang membingungkan adalah ketelitian Kitab Injil.  Sangatlah sukar untuk dipercaya, meskipun tanpa diragukan lagi, bahwa seluruh informasi genetik yang diperlukan dan cukup untuk membentuk tubuh kita, bahkan otak kita (yang merupakan alat yang paling hebat dalam memecahkan masalah, malahan mampu menganalisa hukum-hukum dunia), dapat dilambangkan sehingga jika materinya dikurangi, dapat menempati dengan rapih sebuah lubang jarum!
Yang lebih mengagumkan, saat pematangan sel-sel reproduksi, informasi genetik berubah dalam banyak bentuk sehingga setiap pembuahan memiliki kombinasi asli yang berlainan yang tak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada lagi.  Setiap pembuahan itu unik dan tak tergantikan.  Kembar siam atau hermaprodit (manusia abnormal yang memiliki organ reproduksi pria dan wanita dalam dirinya) adalah pengecualian.  Satu manusia, satu susunan genetik, tetapi menariknya, pengecualian ini harus terjadi saat pembuahan.  Kejadian-kejadian selanjutnya tidak dapat membawa perkembangan yang harmonis.
Semua kenyataan diatas telah diketahui sejak lama dan kita semua setuju, jika  kita membuat bayi tabung, seluruh siklus pembuahan akan terlihat dan terekam, sedangkan si tabung itu sendiri tidak memiliki hak atas bayi yang dihasilkan didalamnya.  Bayi-bayi tabung sekarang sudah ada.
Jika sel telur seekor sapi dibuahi oleh sel sperma seekor banteng, maka hasil pembuahan itu memulai hidupnya.  Biasanya memerlukan waktu seminggu untuk sampai di tuba Fallopi, dan akhirnya tiba di rahim si sapi.  Tetapi karena kemajuan teknologi, hasil pembuahan itu dapat lebih jauh lagi berjalan, bahkan sampai menyeberangi lautan!
Yang terbaik adalah menyuntikkan hasil pembuahan seberat 2 miligram itu ke rahim seekor kelinci (karena biaya angkutan udara yang jauh lebih murah dibandingkan jika kita mengirimkan seekor sapi yang sedang mengandung.)  Setibanya di tempat tujuan, hasil pembuahan itu ditarik kembali dari kandungan si kelinci dan dipindahkan ke rahim seekor sapi.   Berbulan-bulan kemudian, bayi sapi itu akan memperlihatkan genetika yang berasal dari kedua orang tuanya (yaitu dari sel telur sapi dan sel sperma banteng) tanpa memperlihatkan pengaruh dari kelinci (sebagai pembawa hasil pembuahan) maupun ibu tirinya (sebagai peminjam rahim).
Berapa banyak sel diperlukan untuk membuat manusia?  Percobaan terbaru telah memberikan jawabannya.  Jika pembuahan tikus dilakukan secara artifisial (dengan memakai enzim tertentu), sel-sel tikus tersebut akan berpencar.  Dengan mencampur sel-sel tersebut yang datang dari embrio yang berbeda, kita dapat melihat penyatuan kembali.  Jika hasil pembuahan itu ditanam dalam rahim seekor tikus, beberapa tikus kecil (sangat sedikit tentunya) dapat bertahan hidup normal sama sekali.  Seperti yang dikatakan dan diperlihatkan oleh teori, seekor tikus dapat terjadi dari pencampuran dua atau tiga embrio, tidak lebih.  Sel maksimum yang bergabung menjadi satu individual adalah tiga sel.
Dalam percobaan dapat dilihat bahwa sel telur yang telah dibuahi biasanya akan pecah menjadi dua sel, kemudian yang satu akan membagi diri lagi hingga membentuk tiga sel, lalu membentuk sebuah kapsul yang diam didalam sebuah kantung yang memproteksinya yang disebut daerah ‘pellucida’.
Untuk meluruskan apa yang telah kita ketahui, keberadaan dari individu (yang masih dalam bentuk tiga sel dasar tadi) ditentukan dalam tahap selanjutnya setelah pembuahan, yaitu beberapa menit setelah itu.  Ini semua dapat diterangkan oleh dr. Robert Edwards dan dr. Patrick Steptoe dari Inggris saat mereka memulai proses pembuahan di luar kandungan dari bayi tabung pertama di dunia.  Hasil konsepsi yang lemah yang mereka tanamkan di rahim Nyonya Brown bukanlah sebuah tumor atau binatang.  Itulah si kecil Louise Brown yang ajaib, yang sekarang berumur 3 tahun. 
Kelangsungan hidup sebuah pembuahan adalah sangat istimewa.  Dalam penelitian, hasil pembuahan sel-sel tikus dapat dibekukan (hingga –269 derajat Celsius) dan, setelah pemanasan yang hati-hati, dapat ditanamkan dalam rahim seekor tikus yang lain.  Untuk kelangsungan perkembangannya, hanyalah mukosa (lapisan lendir) rahim si penerima-lah yang dapat membuat plasenta (ari-ari) dengan zat-zat makanan khusus yang diperlukan.  Dalam kapsul kehidupannya - cairan amnion (ketuban), janin yang baru bertumbuh ini sama seperti seorang astronot di bulan dengan pakaian luar angkasanya yang sedang mengisi tabungnya dengan zat-zat vital yang diambil dari induk kapal.  Hal ini diperlukan untuk kelangsungan hidupnya, tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa seorang wanita dapat ‘membuat’ seorang bayi,  sama seperti sebuah kapal ulang alik tidak dapat membuat seorang astronot.  Perbandingan tersebut akan terasa lebih meyakinkan saat janin mulai bergerak.
Terima kasih untuk ditemukannya alat USG.  Dr. Ian Donald dari Inggris, setahun yang lalu berhasil membuat film dengan bintang termuda di dunia, janin 11 minggu sedang menari dalam rahim ibunya.  Sepertinya, si bayi sedang bermain trampolin (kain layar yang direntang di tanah untuk menampung jatuhnya akrobat-akrobat)!  Dia menekuk lututnya, mendorong ke dinding, mencoba untuk naik dan jatuh lagi.  Karena tubuhnya ringan dan terapung dalam cairan ketuban, dia tidak merasakan gaya gravitasi dan melakukan gerakan-gerakannya secara lambat, tenang dan sangat elegan, tidak mungkin ada duanya dalam dunia ini.  Hanya astronot yang berada dalam ruang bebas gravitasi yang dapat mencapai hal yang serupa.  (Perlu diketahui, saat manusia berjalan pertama kali di luar angkasa, para ahli harus berpikir keras untuk menentukan dimana tabung yang berisi cairan harus diikatkan.  Mereka akhirnya memilih menaruhnya dekat perut, seperti tali umbilikal yang menghubungkan plasenta dengan rahim seorang calon ibu).
Saat saya mendapat kesempatan untuk berbicara di depan Senat beberapa waktu yang lalu, saya memberanikan diri untuk menceritakan kembali sebuah dongeng tentang seorang anak yang lebih kecil dari ibu jari.  Pada usia kehamilan dua bulan, ukuran seorang manusia dari kepala hingga bokong adalah lebih pendek dari ibu jari.  Dia dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam kulit kacang tanah, tetapi semuanya ada disana: tangan, kaki, kepala, organ-organ tubuh, otak, semuanya lengkap pada tempatnya.  Jantungnya sudah berdetak sejak sebulan yang lalu.  Kalau dilihat dengan seksama, kita dapat melihat garis-garis di telapak tangannya, dan seorang peramal dapat membaca kehidupan si kecil ini.  Dengan pembesaran yang memadai, cap jari janin dapat terlihat.  Dia bisa dibuatkan dokumen-dokumen untuk identitas pribadinya.  Dengan kecanggihan yang luar biasa, kita dapat mengusik privasinya.  Hydrophone khusus dapat memperdengarkan musik primitif: suara ketukan yang dalam, berirama 60-70 kali per menitnya (itulah detak jantung si calon ibu) dan suara ketukan yang cepat, berirama 150-170 kali per menit (itulah detak jantung si janin).  Pencampuran kedua irama detak jantung inilah, seperti perpaduan bunyi bass dan marakas,  yang merupakan basis irama musik pop. 
Kini kita semakin jelas apa yang dirasakan janin, kita telah mendengarkan apa yang didengar janin, mencium apa yang dicicipi janin dan kita telah bersama-sama melihatnya menari dengan lemah gemulai dan penuh semangat.  Ilmu pengetahuan telah merubah dongeng Tom Thumb (Tom si Jempol) menjadi kisah nyata, yaitu kita semua yang pernah hidup dalam rahim ibu kita.
Dan untuk meyakinkan anda akan kebenaran penelitian yang dilakukan, jika pada saat permulaan, yaitu saat setelah pembuahan, beberapa hari sebelum hasil pembuahan itu ditanam di rahim, kita coba mengangkat sebuah sel dari manusia yang berbentuk seperti buah beri itu.  Sel itu dapat kita pelihara dan teliti kromosomnya.  Jika seorang mahasiswa kedokteran diminta untuk melihatnya dibawah mikroskop, dan tidak bisa mengenal jumlah, bentuk dan pola kromosom-kromosom itu, dan jika ia tidak dapat mengatakan secara pasti apakah sel itu berasal dari seekor simpanse atau manusia, maka ia akan gagal dalam ujiannya.
Untuk menerima kenyataan bahwa setelah pembuahan berlangsung seorang manusia baru telah terbentuk, bukanlah persoalan rasa atau pendapat.  Sifat alam manusia dari saat pembuahan hingga hari tuanya bukanlah sebuah anggapan metafisik.  Semuanya telah terbukti lewat riset ilmu pengetahuan.
 

Membangun Jati Diri Bangsa

Senin, 14 November 2011

Dalam masyarakat demokrasi, sebenarnya sikap mandiri dan toleransi menjadi keniscayaan.Itulah sebenarnya jati diri yang harus kita bangun, tanpa mengabaikan landasan idiil dan yuridis kita.Tetapi gejalanya, ada saja orang-orang yang gemar mengail di air keruh.
Dalam kasus Century, misalnya, bagi saya tetap tidak masuk akal bahwa seorang Robert Tantular sejak awal dibiarkan mengobrak-abrik aturan perbankan--bahkan mampu menyuap pihak-pihak tertentu--yang pada akhirnya merugikan negara sampai triliunan rupiah dan bahkan mencemarkan nama baik sejumlah pihak. Kita memang belum tahu pasti yang mana-mana.Namun kenyataannya, sistem demokrasi yang kita jalankan memungkinkan kecerobohan luar biasa dalam kasus ini. Sementara itu, walaupun Robert Tantular sudah dijerat hukuman penjara, namanya larut ditelan angin, kalah mencuat dari pemeran-pemeran lain. Dengan sistem kita, bukannya tidak mungkin penjara hanya tempat singgahnya sementara karena bisa saja tidak lama lagi dia akan kembali menghirup udara bebas, sementarakita belum lupa kehebohan yang ditimbulkannya.
Robert Tantular, dan cs-nya, tentunya suatu kelainan. Apa penyebab perkembangan kepribadian yang demikian? Lemahnya sistem pendidikan? Padahal seperti yang dijelaskan oleh nara sumber dari lembaga pendidikan dalam diskusi di Kemenko Polhukam, tidak kurang-kurangnya lembaganya menyusun rumusan yang diharapkan bisa menjamin terbentuknya manusia-manusia Indonesia berwatak luhur, yang kuat jati dirinya.
Selain lembaga pendidikan menjadi sorotan tajam, dalam menganalisis kelemahan-kelemahan yang masih ada, media/pers hampir selalu menjadi sasaran kritikan pedas-- bahwa dia tidak memikirkan kepentingan masyarakat, senang mengaduk-aduk hanya yang buruk-buruk, mengadu domba-- semua demi kepentingan keuntungan. Apakah memang demikian?Menurut pihak media/pers, dia berfungsi sebagai alat informasi, edukasi dan menghibur pula. Sebagai pengawal demokrasi, dia adalah cermin yang membeberkan situasi seperti apa adanya. Secara tidak langsung dia ikut membangun jati diri bangsa, karena dia bisa menjadi pengukur seberapa besar kebenaran maupun kekeliruan kita dalam menjalankan demokrasi.Jangan karena buruk muka maka cermin dibelah.Misalnya, citra Ruhut Sitompul dan Roy Suryo di mata publik - apakah karena hasil rekayasa media/pers atau karena ulah mereka sendiri?
Pada saat lintasan reformasi mengikuti jalur yang tidak jelas, dan lamban, serta menghadapi tantangan-tantangan multi-dimensi, beberapa kalangan pada beberapa waktu terakhir ini mulai mewacanakan tentang “kembali ke UUD 45”, dan jati diri bangsa. Bahkan dalam Musyawarah Nasional dan Konbes NU di Surabaya pada Agustus 2006 lalu difatwakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah “final”. Apakah pernyataan ini membantu atau pun produktif dalam membangun kembali upaya-upaya merajut kembali Indonesia yang tampak kedodoran, sempoyongan, dan nyaris tercabik-cabik dalam beragam kesenjangan dan konflik yang tampak tak-berujung dalam menyongsong fajar abad 21 yang penuh persaingan?   Saya berpendapat bahwa bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk memanfaatkan seluruh khasanah kekayaan budayanya untuk tampil dengan penyelesaian kreatif.Bangsa Indonesia tidak saja harus dengan penuh keberanian mengambil khasanah budaya dan ilmu pengetahuan universal yang tersedia, namun harus mampu merumuskan solusi unik sebagai bagian dari upayanya untuk tetap lestari dalam percaturan sejarah.
Memperhatikan sejarah sekelompok suku yang hidup di sebuah kawasan disebut Nusantara ini, Umar Kayam mengibaratkan orang Indonesia sebagai manusia dengan tulang animisme, berbalut daging Hindu, berjubah Arab, dan berparfum Eropa. Harus segera dikatakan bahwa kawasan ini telah lama merupakan kawasan “sampah-sampah peradaban dunia”. Artinya, baik Hindu, Islam dan Kristen yang dibawa oleh para misionarisnya, bukanlah Hindu, Islam, dan Kristen “asli” seperti dikenal di tanah kelahiran ketiga agama besar dunia ini. Seperti juga dalam setiap proses transmisi dan komunikasi gagasan, gagasan-gagasan awal mengalami berbagai proses “pengurangan dan penambahan” baik disengaja ataupun tidak melalui adaptasi, penerjemahan, dan penafsiran.
Dalam perspektif ini, mengatakan “NKRI adalah final”, dan merumuskan sebuah “jati diri bangsa” ini bukanlah hak sebuah generasi atau kelompok tertentu bangsa ini. Bahkan dalam era globalisasi ini, pertanyaan soal jati diri bangsa ini bisa dianggap tidak relevan. Jika jatidirinya merupakan gambaran tentang “postur budaya aslinya”, orang Indonesia “asli”, jika misalnya Homo Soloensis dan Homo Mojokertoensis bisa disebut demikian, prestasinya tidak tercatat membanggakan. Jati diri sebuah bangsa adalah sebuah “proses menjadi” terus menerus yang dibayangkan bersama secara sadar oleh anggota bangsa tersebut.  Artinya, jati diri bangsa , dan “bentuk negara RI” adalah sebuah “proyek konsensus bersama”, sebuah “proses penemuan”, sebuah proses “memaknai kebersamaan sekelompok suku dalam suatu kawasan”  dalam rangka memenangkan kompetisi budaya dunia. Ini berarti bahwa jati diri bangsa merupakan sebuah proses kreatif bangsa tersebut untuk mempertahankan diri sebagai sebuah bangsa dalam sebuah pertarungan dan penaklukan budaya di dunia.
Proses kreatif bangsa adalah upaya bangsa tersebut untuk melakukan evaluasi diri secara terus menerus, keberanian meninggalkan aspek-aspek negatif budaya sendiri, dan mengambil aspek-aspek positif budaya main stream, serta  mengambil keputusan atas postur budaya mereka sendiri dengan penuh tanggungjawab. Masyarakat atau bangsa Eropa adalah contoh mutakhir yang dapat kita lihat (sebagai catatan, luas Indonesia membentang sejak London hingga Ankara).Kegagalan menyepakati sebuah Konstitusi Eropa dalam dua tahun terakhir ini membawa “bangsa Eropa” mempertanyakan kembali jati dirinya.
Proses globalisasi –bersama gagasan-gagasannya- yang tidak seimbang saat ini telah menyebabkan bangsa-bangsa dunia ketiga dalam posisi sulit, terutama dalam rangka mempertahankan jati dirinya. Karena globalisasi adalah sebuah proses penaklukan budaya, upaya mempertahankan jati diri ini adalah mekanisme melestarikan diri sebagai sebuah bangsa. Bangsa yang takluk secara budaya, disukai atau tidak, akan mengambil budaya penakluk tersebut tanpa melalui sebuah proses kreatif.
Dalam kaitan inilah, pendidikan merupakan sebuah upaya sadar untuk membangun kapasitas kreatif bangsa ini.Kreativitas sebuah bangsa barangkali merupakan satu-satunya aspek yang terpenting dari bangsa tersebut karena, pertama, bangsa adalah sebuah komunitas yang diimajinasikan (an imagined society).Perlu segera dikatakan, bahwa jati diri bangsa hanyalah atribut (sifatan) yang dilekatkan secara konsensual oleh bangsa tersebut. Kedua, pendidikan adalah upaya mengantar peserta didik ke masa depan yang penuh gejolak, ketidakpastian, dan ketidakjelasan. Hanya bangsa kreatif yang akan mampu bertahan, dalam arti menemukan jati dirinya, dalam lingkungan tidak pasti, dan tidak jelas tersebut.Dan jati diri bangsa itu sendiri Bukan sebuah gagasan yang monolitik dan di jadikan dan di finalkan oleh generasi untuk di wariskan ke generasi.Sebuah proses kreatif konsenssual tentang sebuah komunitas yang di bayangkan.

Peningkatan Kualitas Pendidikan

Minggu, 06 November 2011

Keberhasilan Indonesia
Lebih dari tiga dekade Indonesia telah meningkatkan angka partisipasi sekolah
dengan baik. Pada tahun 2002, angka partisipasi kasar untuk sekolah dasar
melebihi 100 persen, meningkat dari 80 persen di tahun 1970, dan angka
partisipasi murni sekolah dasar saat ini mencapai 93 persen. Partisipasi
sekolah pada jenjang sekolah menengah pertama juga menunjukkan
peningkatan yang mengesankan. Angka partisipasi murni meningkat dari
hanya 18 persen pada tahun 1970 menjadi 80 persen pada tahun 2002. Indonesia
juga telah cukup berhasil dalam mengurangi ketimpangan angka
partisipasi antara laki-laki dengan perempuan. Angka partisipasi, terutama
pada jenjang pendidikan dasar, dapat disejajarkan dengan negara-negara di
Asia timur lain yang mempunyai tingkat pendapatan perkapita yang lebih
tinggi (gambar 1). Meski demikian, Indonesia harus memberikan perhatian
khusus akan dampak buruk krisis keuangan pada akhir periode 1990-an yang
telah merusak catatan pendidikan yang mengesankan ini. Angka partisipasi
sempat menurun ketika krisis, namun segera meningkat karena disebabkan
salah satunya oleh pengenalan program beasiswa dan dana untuk sekolah
yang dimaksudkan untuk menjamin setiap anak bisa bersekolah.
Ketimpangan dalam penyediaan Jasa
Pendidikan
Disamping berbagai kesuksesan
tersebut, masih banyak
pekerjaan rumah yang
belum terselesaikan.
1. Tidak semua anak
bersekolah. Indonesia
masih belum
mampu memenuhi
program wajib belajar
9 tahun bagi semua
anak. Saat ini masih
terdapat sekitar 20
persen anak usia sekolah menengah pertama yang masih belum
bersekolah.
Perbedaan partisipasi antar daerah yang cukup besar. Pada tahun 2002,
sebagai contoh, angka partisipasi murni pada jenjang sekolah dasar berkisar
antara 83,5 persen di propinsi Gorontalo dan 94,4 persen di Sumatera
Utara. Pada jenjang sekolah menengah pertama, angka partisipasi murni
berkisar antara 40,9 persen di Nusa Tenggara Timur dan 77,2 persen di
Jakarta dan pada jenjang sekolah menengah atas berkisar antara 24,5 persen
di Nusa Tenggara Timur dan 58,4 persen di Yogyakarta.
2. Anak dari kelompok miskin keluar dari sekolah lebih dini. Pada
tahun 2002 angka partisipasi sekolah menengah pertama dari kelompok
penduduk seperlima terkaya, lebih tinggi 69 persen dibandingkan dengan
angka partisipasi dari kelompok seperlima termiskin. Sementara pada
jenjang sekolah menengah atas, angka partisipasi murni dari kelompok
seperlima terkaya mencapai tiga setengah kali lebih tinggi dibandingkan
dengan angka partisipasi murni kelompok termiskin. Walaupun hampir
semua anak dari berbagai kelompok pendapatan bersekolah di kelas satu
sekolah dasar, anak dari kelompok pendapatan termiskin cenderung
menurun partisipasinya setelah mencapai kelas enam.
Peningkatan Kualitas Pendidikan
Indonesia Policy Briefs - Ide-Ide Program 100 Hari

Literatus Gratis Teknologi Pendidikan

Kamis, 20 Oktober 2011



Teknologi pendidikan dapat dipandang dari berbagai sisi. Cara pandang tersebut melandasi langkah gerak teknologi pendidikan dalam dunia pendidikan. Teknologi pendidikan dapat dipandang sebagai suatu disiplin ilmu, bidang garapan, dan profesi. Masing-masing sudut pandang memiliki syarat-syarat tersendiri; dan teknologi pendidikan sudah memenuhi seluruh persyaratan ditinjau dari ketiga visi tadi.

Peningkatan teknologi pendidikan sebagai ilmu dan profesi ditentukan oleh kawasan dan bidang garapan. Teori berfungsi sebagai pemandu jalur arah perkembangan teknologi pendidikan agar benar. Bidang garapan mengembangkan, menerapkan, membuktikan, dan memperbaiki teori berdasarkan masukan dari lapangan.


Makalah ini membahas visi teknologi pendidikan baik dilihat dari sisi disiplin ilmu, bidang garapan, maupun profesi.

Teknologi Pendidikan

Rabu, 19 Oktober 2011




Ilmu Teknologi Pendidikan
Teknologi Pendidikan dapat digunakan, tetapi hanya akan betul bermanfaat setelah Ilmu Teknologi Pendidikan dan cara menggunakan teknologi di bidang pendidikan sudah dipaham oleh manajemen pendidikan kita maupun guru.

Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum.

Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain.

Teknologi Pendidikan

Sabtu, 01 Oktober 2011

1. saya akan menjelaskan tentang teknologi pendidikan tahun 1994 dan tahun 2007
2. dan kawasan-kawasan teknologi pendidikan


. Paradigma Teknologi Pendidikan tahun 1994:
1). Definisi Teknologi Pendidikan adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi proses dan sumber untuk belajar

Domain / kawasan TP tahun 1994 :

Pengembangan Teknologi cetak
Teknologi
audiovisual
Tek. berbasis
computer
Tek.terpadu

Desain Desain sistem
pembelajaran
Desain pesan
Strategi
pembelajaran
Karakteristik
pebelajar
Penilaian Analisis masalah
Pengukuran acuan
patokan
Evaluasi formatif
Evaluasi sumatif

Pemanfaatan Pemanfaatan
media
Difusi inovasi
Implementasi &
institutionalisasi
Kebijakan &
Regulasi
Pengelolaan Manaj.proyek
Manaj.sumber
Manaj.sistem
penyampaian
Manaj.informasi

Teori
Praktik

Lingkup kegiatan :
Visi, misi, dan tujuan paradigma teknologi pendidikan tahun
1977 dan 1994

C. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan mencolok kedua paradigma TP tahun 1977 dengan 1994 adalah:
a. Perubahan istilah teknologi pendidikan menjadi teknologi pembelajaran;
b. Penekanan orientasi pada definisi tahun 1977 pada praktik, sedangkan orientasi pada definisi tahun 1994 meliputi dua bidang yaitu teori dan praktik.
c. Pada definisi tahun 1977 kawasan kerja bidang teknologi pembelajaran meliputi menganalisis, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola. Sedangkan dalam definisi tahun 1994 meliputi lima kawasan antara lain perancangan, pengembangan, penggunaan, pengelolaan, dan pengevaluasian.



Kawasan Teknologi Pembelajaran




A. Kawasan Teknologi Pembelajaran
Kawasan dalam teknologi pembelajaran ini berlandaskan dengan beberapa bidang garapan, antara lain :
  1. Kawasan Desain
  2. Kawasan Pengembangan
  3. Kawasan Pemanfaatan
  4. Kawasan Pengelolaan
  5. Kawasan Penilaian
B. Peran (Fungsi) Kawasan
Mengetengahkan sifat taksonomi dari struktur kawasan. Tujuan utama dalam membuat suatu taksonomi adalah untuk mempermudah komunikasi. (Bloom, 1956 : 10-11)
Pesatnya perubahan dan penyesuaian teknologi menuntut terjadinya alih pengetahuan dari teknologi yang satu kepada yang lain. Tanpa “kemungkinan dapat ditransfer” ini landasan penelitian harus diciptakan kembali untuk setiap teknologi yang baru. Dengan mengidentifikasi lingkup taksonomi, kaum akademisi dan para praktisi  dapat memecahkan permasalahan penelitian, dan para praktisi bersamadengan para teoritisi dapat mengidentifikasi kelemahan teori dalam menunjang dan meramalkan aplikasi Teknologi Pembelajaran.
C. Hubungan Antar Kawasan
  • Hubungan antar kawasan dapat bersifat tidak linier, dengan kata lain bagaimana kawasan-kawasan tersebut saling melengkapi dengan ditunjukannya lingkup peneltian dan teori dalam setiap kawasan.
  • Hubungan antar kawasan bersifat sinergik. Misalnya : Seorang praktisi yang bekerja dalam kawasan pengembangan menggunakan teori dari kawasan desain, seperti teori desain system pembelajaran dan desain pesan.
  • Hubungan kawasan dalam bidang bersifat saling melengkapi, setiap kawasan memberikan kontribusi terhadap kawasan yang lain dan kepada penelitian maupun teori yang digunakan bersama oleh semua kawasan.
Selanjutnya dikhususkan untuk membahas kawasan Teknologi Pembelajaran yaitu kawasan Pengelolaan.
D. Deskripsi Kawasan Pengelolaan
  • Konsep pengelolaan merupakan bagian integral dalam bidang teknologi pembelajaran dan dari peran kebanyakan para teknolog pembelajaran.
  • Banyak teknolog pembelajaran memegang jabatan yang jelas-jelas memerlukan fungsi pengelolaan. Misalnya, seorang ahli yang bertugas sebagai akhli media pada sebuah sekolah/Perguruan Tinggi. Orang ini bertanggung jawab atas keseluruhan program pusat media tersebut. Program-program yang dilakukan oleh mereka itu dapat sangat berbeda, akan tetapi keterampilan dasar yang diperlukan untuk mengelola program tersebut tetap sama. Keterampilan yang dimaksud meliputi pengorganisasian program, supervisi personil, perencanaan, pengadministrasian dana dan fasilitas, serta pelaksanaan perubahan.
  • Kawasan pengelolaan semula berasal dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media.
  • Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pembelajaran melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi.
  • Secara singkat, ada empat kategori dalam kawasan pengelolaan : pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan system penyampaian dan pengelolaan informasi.
1. Pengelolaan Proyek
Pengelolaan proyek meliputi perencanaan, monitoring dan pengendalian proyek desain dan pengembangan. Para pengelolaan proyek bertanggung jawab atas perencanaan, penjadwalan dan pengendalian fungsi desain pembelajaran atau jenis-jenis projek yang lain. Peran pengelolaan projek biasanya berhubungan dengan cara mengatasi ancaman projek dan memberi saran perubahan ke dalam.
2. Pengelolaan Sumber
Pengelolaan sumber mencakup perencanaan, pemantauan, dan pengendalian system pendukung dan pelayanan sumber. Pengelolaan sumber sangat penting artinya karena mengatur pengendalian akses. Pengertian sumber dapat mencakup personil, keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas, dan sumber pembelajaran. Efiktifitas biaya dan justifikasi belajar yang efektif merup[akan dua karakteristik penting dari pengelolaan sumber.
3. Pengelolaan Sistem Penyampaian
Pengelolaan system penyampaian meliputi perencanaan, pemantauan, pengendalian “ cara bagaimana distribusi bahan pembelajaran diorganisasikan… Hal tersebut merupakan suatu gabungan medium dan cara penggunaan yang dipakai dalam menyajikan informasi pembelajaran kepada pebelajar “ (Ellington dan Harris, 1986 : 47). Pengelolaan system penyampaian memberikan perhatian pada permasalahan produk seperti persyaratan perangkat keras/lunak dan dukungan teknis terhadap pengguna maupun operator. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada kesesuain karakteristik teknologi dengan tujuan pembelajaran. Keputusan tentang penngelolaan system penyampaian ini sering tergantung pada system pengelolaan sumber.
4. Pengelolaan Informasi
Pengelolaan informasi meliputi perencanaan, pemantauan dan pengendalian cara penyimpanan, pengiriman/pemindahan atau pemrosesan informsi dalam rangkatersedianya sumber untuk kegiatan belajar. Pengelolaan informasi penting untuk memberikan akses dan keakraban pemakai. Pentingnya pengelolaan informasi terletak pada potensinya untuk mengadakan revolusi kurikulum dan aplikasi desain pembelajaran. Pengelolaan system penyimpanan informasi untuk tujuan pembelajaran tetap akan merupakan komponen penting dari bidang Teknologi Pembelajaran.

Jumat, 23 September 2011

Currently Viewing »

Teknologi Pendidikan: Definisi ICT 2004

Teknologi pendidikan telah berkembang dari tahun ke tahun. Setelah tahun 1994 meluncurkan definisi terbaru, kini tahun 2004, AECT merilis definisi terbaru lagi. AECT mendefinisikan teknologi pendidikan sebagai berikut:
Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.
Teknologi Pendidikan adalah studi dan praktek etis memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan dan mengelola proses dan sumber teknologi yang tepat.
Elemen definisi teknologi pendidikan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Dengan demikian, minimal ada sembilan elemen kunci yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Elemen #1: Study (Penelitian dan Praktek Reflektif)Elemen ini mengandung makna bahwa:
1. Teori dan praktek ke-TP-an didasarkan atas hasil konstruksi pengetahuan terus menerus melalui penelitian dan praktek reflektif (study).
2. Study, lebih dari sekedar penelitian tradisional. Tapi, meliputi semua aktivitas ilmiah seperti penelitian, pengembangan, analisis kajian, needs assessment, maupun evaluasi.
3. Trend study terbaru adalah digunakannya “authentic environment” dan “voice of practitioner”.
Elemen #2: Ethical Practice (Praktek Etis): Kode Etik sebagai Landasan Praktek
Elemen ini mengandung makna bahwa:
1. Teknologi Pendidikan sbg profesi harus memiliki dan memang telah lama memiliki kode etik.
2. Asosiasi internasional, salah satunya AECT telah lama mengembangkan dan menerapkan kode etik.
3. Asosiasi Indonesia, IPTPI juga telah mengembangkan dan menerapkan kode etik.
4. Kode etik bukanlah sekedar aturan dan harapan, tapi merupakan landasan praktek.
AECT sendiri memilik kode etik, yang secara garis besar dijelaskan sebagai berikut:
1. Komitmen terhadap individu: proteksi terhadap hak akses terhadap bahan-bahan belajar dan usaha untuk menjaga keselamatan dan keamanan dari para profesional.
2. Komitmen terhadap masyarakat: Kebenaran dari pernyataan publik yang berhubungan dengan masalah-masalah pendidikan, dan praktek yang adil dan pantas terhadap mereka yang memberikan pelayanan pada profesi ini
3. Komitmen terhadap profesi: meningkatkan pengetahuan & ketrampilan profesional, memberikan penghargaan yang akurat kepada pekerjaan & gagasanyang dipublikasikan.
Elemen #3: Facilitating (Memberikan Kemudahan Belajar)
Elemen ini mengandung makna bahwa:
1. facilitating = memberikan kemudahan dgn cara merancang lingkungan, mengorganisasikan sumber-sumber dan menyediakan peralatan yang kondusif untuk mendukung proses pembelajaran sesuai kebutuhan, efektif, efisien dan menarik.
2. ruang lingkup facilitating meliputi mulai dari pembelajaran langsung sampai dengan pembelajaran jarak jauh melalui lingkungan virtual environment
Berikut adalah contoh pengaruh teori belajar dan teknologi dan implikasinya terhadap upaya memberikan kemduahan (facilitating) belajar:
1. pengaruh teori belajar kognitifistik dan konstruktifistik memberikan implikasi terhadap: (1) timbulnya pergeseran paradigma mengajar dari mengendalikan ke memfasilitasi; (2) timbulnya pergeseran tujuan pemeblajaran dari belajar dangkal (shallow learning) ke belajar mendalam (deep learning).
2. pengaruh teknologi memberikan implikasi terhadap pergeseran pearan dari teknologi itu sendiri dari penegndali (to control) ke (seperti penyajian informasi, drill and practice) ke pendukung belajar (sebagai driver dan enabler of learning).
Elemen #4: Learning
Elemen ini mengandung makna bahwa learning adalah obyek formal yang menjadi pokok permasalahan yang harus dipecahkan melalui teknologi pendidikan. Berikut adalah beberapa hal terkait dengan learning:
1. tujuan: a) memperoleh pengetahuan & ketrampilan yang dapat diaplikasikan dalam penggunaan aktif diluar kelas (dunia nyata; b)mencapai kemampuan untuk… bukan pengetahuan tentang …
2. implikasinya, proses pembelajaran harus authentic & challenging task, active, contextual, meaningfull, simulatif berbasis situasi/permasalahan nyata, sehingga harus student-centered, rather than teacher-centered learning.
Elemen #5: Improving — Improving Performance
Mengandung makna bahwa:
1. improving harus mampu membuat kemudahan yang kredibel (meyakinkan) yang menawarkan manfaat bagi masyarakat
2. improving harus memberikan cara-cara yang terbaik untuk mencapai tujuan yang berharga.
3. Proses improving mengarah pada kualitas hasil/produk yang dapat diprediksi. Produk/hasil mengarah pada efektifitas belajar yang dapat diprediksi. Menuju tercapainya kemampuan yang dapat digunakan/diaplikasikan dalam dunia nyata.
Elemen #6: Performance
Elemen ini mengandung makna bahwa:
1. kinerja adalah kemampuan pemelajar untuk menggunakan dan menerapkan kemampuan baru yang diperolehnya.
2. meningkatkan kinerja mengandung makna bukan sekedar meningkatkan pengetahuan (inert knowledge) tapi adalah meningkatkan kemampuan untuk dapat diterapkan olehnya dalam pekerjaannya sehari-hari (dunia nyata).
Elemen 7: Create
Elemen ini mengandung makna bahwa:
1. Mencipta berkaitan dengan penelitian, teori dan praktek dalam menciptakan lingkungan belajar dalam latar yang berbeda-beda, baik formal & nonformal.
2. Ruang lingkup mencipta meliputi berbagai kegiatan, bergantung pada pendekatan desain yang digunakan.
3. Langkah generik: ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation)
Elemen 8: Using
Elemen ini mengandung makna bahwa:
1. Berkaitan dengan teori & praktek untuk membawa pemelajar berhubungan dengan kondisi belajar dan sumber-sumber.
2. Menggunakan dimulai dengan pemilihan proses & sumber ( atau metode & bahan) yang tepat.
3. Pemilihan yang bijak berdasarkan materials evaluation, menentukan sumber-sumber yang ada yang cocok untuk sasaran & tujuannya.
4. Utilization: merencanakan & melaksanakan agar pemelajar dapat berinteraksi dengan sumber2 belajar dalam lingkungan tertentu dan mengikuti prosedur tertentu.
Elemen #9: Managing
Managing mmeliputi:
1. manajemen proyek: dibutuhkan ketika produksi media dan proses pengembangan pembelajaran menjadi lebih kompleks dan dalam skala besar.
2. delivery system management: dibutuhkan seperti ketika menyelenggarakan program Pendidikan Jarak Jauh berbasis teknologi komunikasi & informasi (ICT) dikembangkan.
3. personal management and information management: berkaitan dengan isu mengatur pekerjaan orang2 dan perencanaan & pengawasan penyimpanan dan pemrosesan informasi dalam mengelola projek atau organisasi.
4. evaluasi program: dimana pengelolaan yang bijak membutuhkan evaluasi program.
5. quality control: dalam pendekatan sistem, suatu pengelolaan menuntut adanya pengukuran kontrol kualitas untuk memantau hasil.
6. qualityu assurance: yaitu pengukuran jaminan mutu memungkinkan perbaikan yang terus menerus dari proses pengelolaan.

by yusuf hadi miarso