Kapan Kehidupan Manusia Dimulai? Oleh dr. Jerome Lejeune

Rabu, 16 November 2011


          Almarhum dr. Jerome Lejeune adalah ahli genetik yang dikenal masyarakat internasional.  Dr. Lejeune adalah seorang profesor genetik di Universitas Rene Descartes di Paris.  Menerima Penghargaan Kennedy dari Almarhum Presiden Kennedy karena berhasil menemukan kelainan genetik Sindroma Down (Down’s Syndrome) yang disebabkan oleh kromosom ekstra (Trisomy 21).  Dr. Lejeune telah menyumbangkan banyak penelitian genetik untuk mencegah dan mengobati Trisomy 21.  Berikut ini adalah pendapat yang diberikannya di depan sub-komite Hukum Senat Amerika.
Kapan persisnya kehidupan seseorang dimulai?  Saya akan mencoba memberikan jawaban yang paling mengena untuk pertanyaan ini berdasarkan ilmu pengetahuan.  Ilmu biologi modern mengajarkan pada kita bahwa persatuan antara para leluhur dengan keturunannya terjadi karena adanya mata rantai yang berkesinambungan dari pembuahan sel wanita (indung telur) oleh sel pria (sperma) yang membuat anggota baru dari sebuah keluarga hadir di dunia.  Kehidupan mempunyai sejarah yang amat sangat panjang, tetapi setiap individu memiliki permulaan yang rapih, yaitu saat terjadinya pembuahan.
Mata rantai yang dimaksud di atas adalah DNA.  Dalam setiap sel reproduksi yang bentuknya seperti pita sepanjang kira-kira satu meter, terdapat bagian-bagian (23 bagian pada manusia).  Setiap bagian digulung dan dibungkus dengan hati-hati (seperti pita magnetik dalam sebuah kaset mini).  Jika kita melihatnya dibawah sebuah mikroskop, bentuknya mirip sebuah batang, itulah yang dinamakan kromosom.
Tak lama setelah 23 kromosom seorang pria bertemu dengan 23 kromosom seorang wanita dalam sebuah pembuahan, semua informasi genetik dari seseorang yang belum dilahirkan telah diperoleh.  Seperti sebuah pita magnetik tadi, yang jika kita putar dalam tape recorder akan mengeluarkan bunyi simfoni yang indah, kehidupan baru mulai menyatakan siapa dirinya tak lama setelah pembuahan terjadi.
Ilmu pengetahuan dan ilmu hukum berkata dalam bahasa yang sama.  Jika seseorang ingin menikmati kesehatan yang sempurna – maka seorang pakar biologi akan mengatakan bahwa ia perlu keadaan jasmani yang sehat, hidup dengan memperhatikan kesehatan seluruh anggota tubuhnya – sedang seorang pakar hukum mengatakan bahwa ia memerlukan kepatuhan akan hukum-hukum yang berlaku, sehingga ia tidak terseret dalam perkara-perkara yang menyulitkan hidupnya.
Alam bekerja seperti itu.  Kromosom-kromosom adalah tabulasi hukum kehidupan, saat mereka bersatu membentuk mahluk baru (maksudnya pembuahan), kromosom-kromosom itu telah menoktahkan keadaan seseorang.
Yang membingungkan adalah ketelitian Kitab Injil.  Sangatlah sukar untuk dipercaya, meskipun tanpa diragukan lagi, bahwa seluruh informasi genetik yang diperlukan dan cukup untuk membentuk tubuh kita, bahkan otak kita (yang merupakan alat yang paling hebat dalam memecahkan masalah, malahan mampu menganalisa hukum-hukum dunia), dapat dilambangkan sehingga jika materinya dikurangi, dapat menempati dengan rapih sebuah lubang jarum!
Yang lebih mengagumkan, saat pematangan sel-sel reproduksi, informasi genetik berubah dalam banyak bentuk sehingga setiap pembuahan memiliki kombinasi asli yang berlainan yang tak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada lagi.  Setiap pembuahan itu unik dan tak tergantikan.  Kembar siam atau hermaprodit (manusia abnormal yang memiliki organ reproduksi pria dan wanita dalam dirinya) adalah pengecualian.  Satu manusia, satu susunan genetik, tetapi menariknya, pengecualian ini harus terjadi saat pembuahan.  Kejadian-kejadian selanjutnya tidak dapat membawa perkembangan yang harmonis.
Semua kenyataan diatas telah diketahui sejak lama dan kita semua setuju, jika  kita membuat bayi tabung, seluruh siklus pembuahan akan terlihat dan terekam, sedangkan si tabung itu sendiri tidak memiliki hak atas bayi yang dihasilkan didalamnya.  Bayi-bayi tabung sekarang sudah ada.
Jika sel telur seekor sapi dibuahi oleh sel sperma seekor banteng, maka hasil pembuahan itu memulai hidupnya.  Biasanya memerlukan waktu seminggu untuk sampai di tuba Fallopi, dan akhirnya tiba di rahim si sapi.  Tetapi karena kemajuan teknologi, hasil pembuahan itu dapat lebih jauh lagi berjalan, bahkan sampai menyeberangi lautan!
Yang terbaik adalah menyuntikkan hasil pembuahan seberat 2 miligram itu ke rahim seekor kelinci (karena biaya angkutan udara yang jauh lebih murah dibandingkan jika kita mengirimkan seekor sapi yang sedang mengandung.)  Setibanya di tempat tujuan, hasil pembuahan itu ditarik kembali dari kandungan si kelinci dan dipindahkan ke rahim seekor sapi.   Berbulan-bulan kemudian, bayi sapi itu akan memperlihatkan genetika yang berasal dari kedua orang tuanya (yaitu dari sel telur sapi dan sel sperma banteng) tanpa memperlihatkan pengaruh dari kelinci (sebagai pembawa hasil pembuahan) maupun ibu tirinya (sebagai peminjam rahim).
Berapa banyak sel diperlukan untuk membuat manusia?  Percobaan terbaru telah memberikan jawabannya.  Jika pembuahan tikus dilakukan secara artifisial (dengan memakai enzim tertentu), sel-sel tikus tersebut akan berpencar.  Dengan mencampur sel-sel tersebut yang datang dari embrio yang berbeda, kita dapat melihat penyatuan kembali.  Jika hasil pembuahan itu ditanam dalam rahim seekor tikus, beberapa tikus kecil (sangat sedikit tentunya) dapat bertahan hidup normal sama sekali.  Seperti yang dikatakan dan diperlihatkan oleh teori, seekor tikus dapat terjadi dari pencampuran dua atau tiga embrio, tidak lebih.  Sel maksimum yang bergabung menjadi satu individual adalah tiga sel.
Dalam percobaan dapat dilihat bahwa sel telur yang telah dibuahi biasanya akan pecah menjadi dua sel, kemudian yang satu akan membagi diri lagi hingga membentuk tiga sel, lalu membentuk sebuah kapsul yang diam didalam sebuah kantung yang memproteksinya yang disebut daerah ‘pellucida’.
Untuk meluruskan apa yang telah kita ketahui, keberadaan dari individu (yang masih dalam bentuk tiga sel dasar tadi) ditentukan dalam tahap selanjutnya setelah pembuahan, yaitu beberapa menit setelah itu.  Ini semua dapat diterangkan oleh dr. Robert Edwards dan dr. Patrick Steptoe dari Inggris saat mereka memulai proses pembuahan di luar kandungan dari bayi tabung pertama di dunia.  Hasil konsepsi yang lemah yang mereka tanamkan di rahim Nyonya Brown bukanlah sebuah tumor atau binatang.  Itulah si kecil Louise Brown yang ajaib, yang sekarang berumur 3 tahun. 
Kelangsungan hidup sebuah pembuahan adalah sangat istimewa.  Dalam penelitian, hasil pembuahan sel-sel tikus dapat dibekukan (hingga –269 derajat Celsius) dan, setelah pemanasan yang hati-hati, dapat ditanamkan dalam rahim seekor tikus yang lain.  Untuk kelangsungan perkembangannya, hanyalah mukosa (lapisan lendir) rahim si penerima-lah yang dapat membuat plasenta (ari-ari) dengan zat-zat makanan khusus yang diperlukan.  Dalam kapsul kehidupannya - cairan amnion (ketuban), janin yang baru bertumbuh ini sama seperti seorang astronot di bulan dengan pakaian luar angkasanya yang sedang mengisi tabungnya dengan zat-zat vital yang diambil dari induk kapal.  Hal ini diperlukan untuk kelangsungan hidupnya, tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa seorang wanita dapat ‘membuat’ seorang bayi,  sama seperti sebuah kapal ulang alik tidak dapat membuat seorang astronot.  Perbandingan tersebut akan terasa lebih meyakinkan saat janin mulai bergerak.
Terima kasih untuk ditemukannya alat USG.  Dr. Ian Donald dari Inggris, setahun yang lalu berhasil membuat film dengan bintang termuda di dunia, janin 11 minggu sedang menari dalam rahim ibunya.  Sepertinya, si bayi sedang bermain trampolin (kain layar yang direntang di tanah untuk menampung jatuhnya akrobat-akrobat)!  Dia menekuk lututnya, mendorong ke dinding, mencoba untuk naik dan jatuh lagi.  Karena tubuhnya ringan dan terapung dalam cairan ketuban, dia tidak merasakan gaya gravitasi dan melakukan gerakan-gerakannya secara lambat, tenang dan sangat elegan, tidak mungkin ada duanya dalam dunia ini.  Hanya astronot yang berada dalam ruang bebas gravitasi yang dapat mencapai hal yang serupa.  (Perlu diketahui, saat manusia berjalan pertama kali di luar angkasa, para ahli harus berpikir keras untuk menentukan dimana tabung yang berisi cairan harus diikatkan.  Mereka akhirnya memilih menaruhnya dekat perut, seperti tali umbilikal yang menghubungkan plasenta dengan rahim seorang calon ibu).
Saat saya mendapat kesempatan untuk berbicara di depan Senat beberapa waktu yang lalu, saya memberanikan diri untuk menceritakan kembali sebuah dongeng tentang seorang anak yang lebih kecil dari ibu jari.  Pada usia kehamilan dua bulan, ukuran seorang manusia dari kepala hingga bokong adalah lebih pendek dari ibu jari.  Dia dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam kulit kacang tanah, tetapi semuanya ada disana: tangan, kaki, kepala, organ-organ tubuh, otak, semuanya lengkap pada tempatnya.  Jantungnya sudah berdetak sejak sebulan yang lalu.  Kalau dilihat dengan seksama, kita dapat melihat garis-garis di telapak tangannya, dan seorang peramal dapat membaca kehidupan si kecil ini.  Dengan pembesaran yang memadai, cap jari janin dapat terlihat.  Dia bisa dibuatkan dokumen-dokumen untuk identitas pribadinya.  Dengan kecanggihan yang luar biasa, kita dapat mengusik privasinya.  Hydrophone khusus dapat memperdengarkan musik primitif: suara ketukan yang dalam, berirama 60-70 kali per menitnya (itulah detak jantung si calon ibu) dan suara ketukan yang cepat, berirama 150-170 kali per menit (itulah detak jantung si janin).  Pencampuran kedua irama detak jantung inilah, seperti perpaduan bunyi bass dan marakas,  yang merupakan basis irama musik pop. 
Kini kita semakin jelas apa yang dirasakan janin, kita telah mendengarkan apa yang didengar janin, mencium apa yang dicicipi janin dan kita telah bersama-sama melihatnya menari dengan lemah gemulai dan penuh semangat.  Ilmu pengetahuan telah merubah dongeng Tom Thumb (Tom si Jempol) menjadi kisah nyata, yaitu kita semua yang pernah hidup dalam rahim ibu kita.
Dan untuk meyakinkan anda akan kebenaran penelitian yang dilakukan, jika pada saat permulaan, yaitu saat setelah pembuahan, beberapa hari sebelum hasil pembuahan itu ditanam di rahim, kita coba mengangkat sebuah sel dari manusia yang berbentuk seperti buah beri itu.  Sel itu dapat kita pelihara dan teliti kromosomnya.  Jika seorang mahasiswa kedokteran diminta untuk melihatnya dibawah mikroskop, dan tidak bisa mengenal jumlah, bentuk dan pola kromosom-kromosom itu, dan jika ia tidak dapat mengatakan secara pasti apakah sel itu berasal dari seekor simpanse atau manusia, maka ia akan gagal dalam ujiannya.
Untuk menerima kenyataan bahwa setelah pembuahan berlangsung seorang manusia baru telah terbentuk, bukanlah persoalan rasa atau pendapat.  Sifat alam manusia dari saat pembuahan hingga hari tuanya bukanlah sebuah anggapan metafisik.  Semuanya telah terbukti lewat riset ilmu pengetahuan.
 

Membangun Jati Diri Bangsa

Senin, 14 November 2011

Dalam masyarakat demokrasi, sebenarnya sikap mandiri dan toleransi menjadi keniscayaan.Itulah sebenarnya jati diri yang harus kita bangun, tanpa mengabaikan landasan idiil dan yuridis kita.Tetapi gejalanya, ada saja orang-orang yang gemar mengail di air keruh.
Dalam kasus Century, misalnya, bagi saya tetap tidak masuk akal bahwa seorang Robert Tantular sejak awal dibiarkan mengobrak-abrik aturan perbankan--bahkan mampu menyuap pihak-pihak tertentu--yang pada akhirnya merugikan negara sampai triliunan rupiah dan bahkan mencemarkan nama baik sejumlah pihak. Kita memang belum tahu pasti yang mana-mana.Namun kenyataannya, sistem demokrasi yang kita jalankan memungkinkan kecerobohan luar biasa dalam kasus ini. Sementara itu, walaupun Robert Tantular sudah dijerat hukuman penjara, namanya larut ditelan angin, kalah mencuat dari pemeran-pemeran lain. Dengan sistem kita, bukannya tidak mungkin penjara hanya tempat singgahnya sementara karena bisa saja tidak lama lagi dia akan kembali menghirup udara bebas, sementarakita belum lupa kehebohan yang ditimbulkannya.
Robert Tantular, dan cs-nya, tentunya suatu kelainan. Apa penyebab perkembangan kepribadian yang demikian? Lemahnya sistem pendidikan? Padahal seperti yang dijelaskan oleh nara sumber dari lembaga pendidikan dalam diskusi di Kemenko Polhukam, tidak kurang-kurangnya lembaganya menyusun rumusan yang diharapkan bisa menjamin terbentuknya manusia-manusia Indonesia berwatak luhur, yang kuat jati dirinya.
Selain lembaga pendidikan menjadi sorotan tajam, dalam menganalisis kelemahan-kelemahan yang masih ada, media/pers hampir selalu menjadi sasaran kritikan pedas-- bahwa dia tidak memikirkan kepentingan masyarakat, senang mengaduk-aduk hanya yang buruk-buruk, mengadu domba-- semua demi kepentingan keuntungan. Apakah memang demikian?Menurut pihak media/pers, dia berfungsi sebagai alat informasi, edukasi dan menghibur pula. Sebagai pengawal demokrasi, dia adalah cermin yang membeberkan situasi seperti apa adanya. Secara tidak langsung dia ikut membangun jati diri bangsa, karena dia bisa menjadi pengukur seberapa besar kebenaran maupun kekeliruan kita dalam menjalankan demokrasi.Jangan karena buruk muka maka cermin dibelah.Misalnya, citra Ruhut Sitompul dan Roy Suryo di mata publik - apakah karena hasil rekayasa media/pers atau karena ulah mereka sendiri?
Pada saat lintasan reformasi mengikuti jalur yang tidak jelas, dan lamban, serta menghadapi tantangan-tantangan multi-dimensi, beberapa kalangan pada beberapa waktu terakhir ini mulai mewacanakan tentang “kembali ke UUD 45”, dan jati diri bangsa. Bahkan dalam Musyawarah Nasional dan Konbes NU di Surabaya pada Agustus 2006 lalu difatwakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah “final”. Apakah pernyataan ini membantu atau pun produktif dalam membangun kembali upaya-upaya merajut kembali Indonesia yang tampak kedodoran, sempoyongan, dan nyaris tercabik-cabik dalam beragam kesenjangan dan konflik yang tampak tak-berujung dalam menyongsong fajar abad 21 yang penuh persaingan?   Saya berpendapat bahwa bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk memanfaatkan seluruh khasanah kekayaan budayanya untuk tampil dengan penyelesaian kreatif.Bangsa Indonesia tidak saja harus dengan penuh keberanian mengambil khasanah budaya dan ilmu pengetahuan universal yang tersedia, namun harus mampu merumuskan solusi unik sebagai bagian dari upayanya untuk tetap lestari dalam percaturan sejarah.
Memperhatikan sejarah sekelompok suku yang hidup di sebuah kawasan disebut Nusantara ini, Umar Kayam mengibaratkan orang Indonesia sebagai manusia dengan tulang animisme, berbalut daging Hindu, berjubah Arab, dan berparfum Eropa. Harus segera dikatakan bahwa kawasan ini telah lama merupakan kawasan “sampah-sampah peradaban dunia”. Artinya, baik Hindu, Islam dan Kristen yang dibawa oleh para misionarisnya, bukanlah Hindu, Islam, dan Kristen “asli” seperti dikenal di tanah kelahiran ketiga agama besar dunia ini. Seperti juga dalam setiap proses transmisi dan komunikasi gagasan, gagasan-gagasan awal mengalami berbagai proses “pengurangan dan penambahan” baik disengaja ataupun tidak melalui adaptasi, penerjemahan, dan penafsiran.
Dalam perspektif ini, mengatakan “NKRI adalah final”, dan merumuskan sebuah “jati diri bangsa” ini bukanlah hak sebuah generasi atau kelompok tertentu bangsa ini. Bahkan dalam era globalisasi ini, pertanyaan soal jati diri bangsa ini bisa dianggap tidak relevan. Jika jatidirinya merupakan gambaran tentang “postur budaya aslinya”, orang Indonesia “asli”, jika misalnya Homo Soloensis dan Homo Mojokertoensis bisa disebut demikian, prestasinya tidak tercatat membanggakan. Jati diri sebuah bangsa adalah sebuah “proses menjadi” terus menerus yang dibayangkan bersama secara sadar oleh anggota bangsa tersebut.  Artinya, jati diri bangsa , dan “bentuk negara RI” adalah sebuah “proyek konsensus bersama”, sebuah “proses penemuan”, sebuah proses “memaknai kebersamaan sekelompok suku dalam suatu kawasan”  dalam rangka memenangkan kompetisi budaya dunia. Ini berarti bahwa jati diri bangsa merupakan sebuah proses kreatif bangsa tersebut untuk mempertahankan diri sebagai sebuah bangsa dalam sebuah pertarungan dan penaklukan budaya di dunia.
Proses kreatif bangsa adalah upaya bangsa tersebut untuk melakukan evaluasi diri secara terus menerus, keberanian meninggalkan aspek-aspek negatif budaya sendiri, dan mengambil aspek-aspek positif budaya main stream, serta  mengambil keputusan atas postur budaya mereka sendiri dengan penuh tanggungjawab. Masyarakat atau bangsa Eropa adalah contoh mutakhir yang dapat kita lihat (sebagai catatan, luas Indonesia membentang sejak London hingga Ankara).Kegagalan menyepakati sebuah Konstitusi Eropa dalam dua tahun terakhir ini membawa “bangsa Eropa” mempertanyakan kembali jati dirinya.
Proses globalisasi –bersama gagasan-gagasannya- yang tidak seimbang saat ini telah menyebabkan bangsa-bangsa dunia ketiga dalam posisi sulit, terutama dalam rangka mempertahankan jati dirinya. Karena globalisasi adalah sebuah proses penaklukan budaya, upaya mempertahankan jati diri ini adalah mekanisme melestarikan diri sebagai sebuah bangsa. Bangsa yang takluk secara budaya, disukai atau tidak, akan mengambil budaya penakluk tersebut tanpa melalui sebuah proses kreatif.
Dalam kaitan inilah, pendidikan merupakan sebuah upaya sadar untuk membangun kapasitas kreatif bangsa ini.Kreativitas sebuah bangsa barangkali merupakan satu-satunya aspek yang terpenting dari bangsa tersebut karena, pertama, bangsa adalah sebuah komunitas yang diimajinasikan (an imagined society).Perlu segera dikatakan, bahwa jati diri bangsa hanyalah atribut (sifatan) yang dilekatkan secara konsensual oleh bangsa tersebut. Kedua, pendidikan adalah upaya mengantar peserta didik ke masa depan yang penuh gejolak, ketidakpastian, dan ketidakjelasan. Hanya bangsa kreatif yang akan mampu bertahan, dalam arti menemukan jati dirinya, dalam lingkungan tidak pasti, dan tidak jelas tersebut.Dan jati diri bangsa itu sendiri Bukan sebuah gagasan yang monolitik dan di jadikan dan di finalkan oleh generasi untuk di wariskan ke generasi.Sebuah proses kreatif konsenssual tentang sebuah komunitas yang di bayangkan.